Pergulatan Filosofis Ibnu Sina, Al-Ghazali dan Ibn Rusyd

Al-Ghazali dan Filsafat

 “Sekelompok masyarakat begitu terpesona dengan kehebatan filsafat Yunani. Mereka lebih suka mengikuti pemikiran filsafat ketimbang ajaran Islam. Nama-nama filosof  beken seperti Socrates, Hippocrates, Aristoteles dan lainnya, membuat mereka terkagum-kagum. Padahal, mereka belum memahami betul pemikiran para filosof tersebut,” demikian tulis al-Ghazali (450/1058-505/1111), Sang Bukti Islam (Hujjatul Islam) di halaman awal Tahafutul Falasifah.

Bermaksud  menunjukkan kekeliruan filsafat, al-Ghazali menulis Tahafutul Falasifah (Ketidak-koherensian Para Filosof). Karya yang ditulis sekitar bulan Januari 1095 itu adalah jawaban bagi mereka yang terlalu mengidolakan filsafat. Baca entri selengkapnya »

2 Komentar

Konsep Jiwa dalam Islam

Oleh: Syah Reza*

Pendahuluan

Manusia adalah makhluk sempurna yang kehadirannya menjadi tanda tanya besar bagi berbagai kalangan, terutama para ilmuan dan filosof. Hampir semua kalangan tidak ingin mengabaikan fenomena besar dari penciptaan tersebut.  Jasad, akal, perasaan dan jiwa  yang merupakan unsur penting manusia adalah bagian yang paling sering dibahas dalam kajian keilmuan. Umumnya penelitian ilmiah hingga saat ini hanya mampu mengetahui unsur-unsur fisik yang ada pada manusia. Namun unsur dibalik fisik terutama jiwa masih menjadi ‘misterius’ dan perdebatan yang panjang dikalangan ilmuan dan para filosof. Karena kebenaran tetang hal tersebut masih sulit dibuktikan secara jelas. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan sebuah Komentar

Konsep Pendidikan Anak Menurut Ibn Sina

Oleh : Syah Reza*

Pendahuluan

   Suatu kebahagiaan yang sangat bermakna bagi pasangan suami-istri adalah ketika mereka dikaruniai Allah seorang anak. Barangkali itu adalah awal dari sebuah kebahagiaan. Namun, sebenarnya tidak cukup hanya sebatas itu, tentu  proses mendidik harus terus dilakukan secara baik dan intensif sebagai tanggungjawab mereka. Bagaimanapun sebuah kebahagiaan hakiki yang dirasakan oleh kedua orangtua adalah ketika anak-anak yang dilahirkan mampu menjadi generasi terbaik, teladan bagi ummat dan bermanfaat bagi agama dan alam seisinya. Untuk mewujudkannya tidak seperti membalikkan telapan tangan. Butuh perhatian yang serius, strategi yang baik, kesabaran yang kuat, keistiqamahan yang lebih, terhadap pendidikan anak. Baca entri selengkapnya »

2 Komentar

Konsep Jiwa dalam Pandangan Ibn Sina

oleh: Syah Reza*

Nafs (jiwa) dalam jasad itu bagaikan burung yang terkurung dalam sangkar,

merindukan kebebasannya di alam lepas, menyatu kembali dengan alam ruhani,

yaitu alam asalnya. Setiap kali ia mengingat alam asalnya,

ia pun menangis karena rindu ingin kembali.”

Ibn Sina

 

 

A. Pendahuluan

Salah satu kontribusi ilmuan muslim yang dirasakan hingga saat ini adalah kajian tentang kejiwaan. Ironisnya, peranan mereka dalam memajukan dan mengembangkan ilmu kejiwaan (psikologi) tersebut tidak mendapatkan perhatian yang selayaknya dari para pakar sejarah psikologi modern sepanjang sejarah. Umumnya, mereka yang berasal dari Barat memulai kajian psikologi pada kaum pemikir Yunani, terutama Plato dan Aristoteles. Selanjutnya, mereka langsung membahas pemikiran kejiwaan para pemikir Eropa Abad Pertengahan dan masa Kebangkitan (Renaisans) Eropa Modern. Mereka benar-benar melupakan andil para ilmuwan Muslim yang diantaranya banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan banyak mempengaruhi pendapat para pemikir Eropa Abad Pertengahan hingga awal masa Renaisans Eropa Modern sendiri.[1]

Yang lebih menyedihkan lagi, sikap para sejarawan psikologi dari Barat tersebut justru diikuti oleh para pakar psikologi Arab kontemporer. Mereka yang mempelajari berbagai manuskrip sejarah psikologi di banyak universitas sama sekali tidak melirik peranan para ilmuwan Muslim. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan sebuah Komentar

Revolusi Sains Menurut Thomas Kuhn

Oleh: Syah Reza*

Pendahuluan

Dialektika yang muncul dalam literatur filsafat Barat mengenai sains menjadi pembahasan yang penting. Mengingat benturan antar teori dan pemikiran sains dari para ilmuan terus bergulir sejak masarenaisance hingga postmodern. Setelah sains bersatu dengan tekhnologi pada pertengahan abad ke-19, ia menjadi kekuatan penting dan sentral dalam perubahan sosial dan budaya bagi masyarakat. Karena daya tarik sains dan tekhnologi yang begitu tersebar luas ke dalam pikiran manusia. Sehingga pengaruhnya telah mewarnai seluruh masyarakat dunia dari Timur  hingga Barat. Efek yang dominan ini dipengaruhi kuat oleh model epistemologi yang berkembang terutama rasionalisme dan empirisisme. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan sebuah Komentar

“Tersungkur cahaya Cinta”

Syah Reza*

Ketika cahaya menjelama dalam ruang yang hampa, ini menandakan ketenangan yang mulai tiba. Meskipun hanya berupa dentuman2 kecil, namun ku rasakan upayanya menerobos kegelapan mulai tampak sempurna. lalu kenapa tanpa isyarat apapun, tanpa sentuhan apapun, tanpa harapan apapun, ia datang tiba-tiba. Seperti sesuatu yang tidak pernah terpikirkan dalam realitas lalu datang dalam mimpi kita. Hati ini seakan bernada, berirama indah seperti alunan suara harmonica kecil yang baru saja ku miliki. Aku menyukai nada, syair, sastra dan isyarat2 metafisika, dari diwan-diwan sufi yang penuh rasa atau dari lagu-lagu bermakna seperti Hamza Namera. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan sebuah Komentar

Ilmuan Muslim Pencetus Terapi Musik

Al-Kindi

Al-Kindi atau Al-Kindus adalah ilmuwan jenius yang hidup di era kejayaan Islam Baghdad. Saat itu, panji-panji kejayaan Islam dikerek oleh Dinasti Abbasiyah. Tak kurang dari lima periode khalifah dilaluinya, yakni al-Amin (809-813), al-Ma’mun (813-833), al-Mu’tasim, al-Wasiq (842-847), dan Mutawakil (847-861). Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu, termasuk kedokteran, membuatnya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan. Khalifah juga mempercayainya untuk berkiprah di Baitulhikmah yang kala itu gencar menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa, seperti Yunani. Ketika Khalifah al-Ma’mun tutup usia dan digantikan putranya, al-Mu’tasim, posisi al-Kindi semakin diperhitungkan dan mendapatkan peran yang besar. Dia secara khusus diangkat menjadi guru bagi putranya. Al-Kindi mampu menghidupkan paham Muktazilah. Baca entri selengkapnya »

1 Komentar

Tinjauan Kritis atas Tawaran Epistemologi Burhani Muhammad Abed Al-Jabiri

Oleh: Syah Reza*

A.      Pendahuluan

Diskursus mengenai epistemologi merupakan terma yang menarik untuk dibahas karena epistemologi merupakan  basis utama bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Metode, sistem dan model pemahaman yang digunakan sangat menentukan produk dari sebuah pengetahuan. Karena itu, problem rusaknya pemikiran, kerancuan dan keraguan dalam memahami pengetahuan yang dialami oleh manusia umumnya, akibat dari kekeliruan epistemologi. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan sebuah Komentar

Ghadir Khum: Analisis Sanad dan Matan Hadist Tentang Imamah Ali bin Abi Thalib r.a

Oleh: Syah Reza

 

Dalam sejarah umat Islam, Abu Bakar r.a adalah khalifah pertama yang disepaki dan diakui oleh umat Islam.[2] Namun, menurut kaum Syi’ah[3] , kepemimpinan Abu Bakar r.a setelah Rasulullah saw. tidak sah. Karena tidak ada penunjukan langsung (wasiat) oleh Rasulullah saw. kepada Abu Bakar. begitu juga dengan dua khalifah seterusnya yaitu, Umar ibn Khaththab r.a dan Ustman ibn Affan r.a. Kaum Syi’ah sangat serius menyoalkan masalah tersebut hingga sebagian besar mereka mengkafirkan kehalifahan Abu Bakar r.a . Umar r.a dan Ustman bin Affan r.a. Menurut mereka telah terjadi pengkhiatan besar dalam sejarah umat terhadap amanah Rasulullah saw dikalangan Sahabat sepeninggal beliau. Padahal satu-satunya yang pantas menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah saw. adalah Ali bin Abi Thalib.r.a. karena hanya Ali lah yang mendapat pesan melanjutkan kepemimpinan sepeninggal Rasulullah Saw. Mereka berpegang pada pernyataan tersebut berdasarkan beberapa hadist peristiwa Haji Wada’ di Ghadir Khum tentang kepemimpinan Ali yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Sebagai pemimpin setelah beliau.  Baca entri selengkapnya »

3 Komentar

Framework Kajian Keilmuan Islam dan Barat

Oleh: Syah Reza*

 

Dominasi Barat terhadap peradaban Islam telah memberi pengaruh besar terhadap perubahan arah keilmuan. Hal tersebut bisa diamati dari sebagian besar kampus yang cenderung mengadopsi teori dan konsep keilmuan yang dikembangkan Barat, terutama dalam kajian Keislaman. Framework pengkajian yang kritis-ilmiah menjadi corak tersendiri yang digunakan oleh akademisi muslim baik dalam penelitian maupun dalam diskusi. Metode tersebut jika ditelusuri memang terilhami oleh tradisi keilmuan Barat yang cenderung mengedepankan data empiris dan kekuatan rasio semata.  Dalam hal ini, posisi wahyu tidak mendapat tempat dalam keilmuan Barat. Bagi mereka, wahyu  tidak bisa diukur secara ilmiah, karena tidak bisa dibuktikan oleh data empiris dan rasio. Maka, tak jarang kita lihat di Barat, agama (terutama Kristen) semakin termaginalkan dari publik. Sebab Barat memandang agama hanya menjadi penghambat kemajuan dunia. Baca entri selengkapnya »

1 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.